21.8.06

Whole New Kuta

Ada tiga garis tipis keemasan di ujung horison Kuta
Terpelanting jauh diseret asap pesawat
Terbang melampaui tiga kerajaan baru
Konon, bisa hilang kapan saja lalu tenggelam
Kemudian bertandang kembali ke sudut kota

Benarkah?

three green bottles hanging on the wall
and if one green bottle should accidently fall
and there'll be two green bottles hanging on the wall

Posted by Lia @ 12:26 PM :: (1) comments

16.8.06

Seribuan Kilometer


Aku berbisik tentang satu bulan
Kau mendengar dan tersenyum

Aku bercerita tentang tiga bulan
Kau rapatkan kupingmu pada telepon genggam

Aku berteriak tentang satu tahun
Kau bilang suaraku putus-putus

Aku menekan tombol nomormu
Dia bilang mailbox

Ah, akhirnya selalu begitu bukan?
Baik, aku tidak akan memulai dengan cara yang sama, agar hasilnya berbeda. Masuk akal?

Posted by Lia @ 10:50 AM :: (3) comments

13.8.06

Jangan Mati di Sukabumi, Mahal!

Begitu papa bersungut pada adik-adiknya. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dia maksud, karena masih sibuk "meladeni" sepupu-sepupu yang saling lempar cerita. Reunian dadakan ini berawal dari meninggalnya nenek saya, ibu dari papa, beberapa hari lalu. Tentang mengapa saya tidak tampak sedih, itu sepertinya harus dibuat cerita terpisah. Nanti saja kalau mood saya bagus.

Di perjalanan kembali menuju Bandung, saya yang setengah mabuk (terima kasih tukang durian), bertanya pada papa, apa yang dia maksud mati mahal. Dengan wajah serius dan urat menegang di dahi, dia bertutur:

Di perkampungan tertentu macam tempat nenek tinggal, di kaki Gunung Gede, ada budaya aneh yang sangat lazim di mata mereka, dan dipelihara dengan sengaja oleh pemuka agama setempat. Jika seseorang meninggal, maka orang-orang yang men-shalat-kan harus diberi amplop, besarnya isi amplop tergantung siapa orang itu, makin tenar ya makin tebal. Lalu mayatpun dikuburkan, tim penggali juga pulang mengantongi amplop. Tidak lama kemudian tenda terpancang di atas kuburan, lengkap dengan tikar plastik untuk tim pengajian. Siap-siap merogoh kocek lebih besar di tahap ini.

Setiap satu kali tamatan al Qur'an yang di bacakan di depan makam, si pengaji dapat imbalan. Untuk selevel nenek saya (level apa ya? tingkat keselebritisan mungkin...), layaknya tiap orang diberi dua puluh lima ribu rupiah pertamatan. Biasanya, dalam dua hari satu orang bisa tamat baca Al Qur'an satu kali. Yang berkekuatan super (tanpa larangan meminum penguat raga atau jamu-jamuan) bisa tamat sehari sekali. Jika kebetulan keluarga duka memang tebal dompetnya, dan ingin menggelar pengajian hingga 40 hari lamanya, sudah pasti buruh ngaji itu tersenyum riang. Sial-sialnya, tujuh hari mah dapat.

Lalu apa yang terjadi jika si mati dan keluarganya miskin? tanyaku makin mabuk mendengar dongeng papa.

Si miskin tetaplah si miskin. Tidak bakal banyak orang datang untuk sembahyang. Jangan berani-berani berharap ada yang mengaji di depan makamnya berhari-hari, mimpi!

Mabuk durian dicampur lelucon tidak lucu memang paten. Saya tambah puyeng. Benak saya melayang kembali ke reunian dadakan tadi. Saya sempat bingung mendengar uwak perempuan mati-matian menentang mama saya yang kebetulan bendahara (dadakan juga). "Ustadz yang tadi memang harus diberi, khusus dia harus diberi! walaupun tidak ikut sembahyang atau ngaji di depan makam, tapi dia shalat di rumah, dan menggelar do'a bersama di pesantrennya." Mama terlihat sedikit gusar, tapi tetap tahu diri bahwa dia hanya outsider. "Berapa sih harus ngasihnya?" mama akhirnya mengalah. "Minimal lima puluh ribu. Dia kan ustadz terkenal, anggota DPR pula. Jika perlu, kita antar ke sana kalau dia sudah pulang," Uwak begitu giat. "Apa nanti dia ngga tersinggung, orang mau beribadah kok....?" mama kembali berjuang. Setengah melotot Uwak kembali memberondongkan pelurunya. Mama saya melempar pandangan sejenak ke arah saya yang saat itu clueless, lalu mengangguk perlahan.

Saya mulai mual dan berkunang-kunang. Saya yakin sebelumnya durian tidak pernah sejago ini, sebanyak apapun saya makan. Ingatan saya kembali ke tanah kotak dengan rumah di tengahnya itu. Gerbang yang diapit pohon pala meniupkan angin sejuk ke dalam sela-sela jendela tempat saya sedang bengong beberapa tahun lalu. Rumah nenek kadang enak untuk melepas penat, asalkan tidak banyak famili datang saja. Tiba-tiba sepupu saya, anak dari uwak paling besar, yang sejak dulu entah kenapa tidak pernah berani membalas tatapan mata saya, melintas diantara pohon pala. Rumah mungil ibunya yang sebagian berlantai tanah terletak di sudut kebun belakang. "Wah jam segini gaya bener, mau kemana?" tanya saya iseng. Dia menjawab sambil tertunduk, "Kuli ngaji." Baru malam ini saya sadar apa yang dia maksud.

Saya benar-benar tidak sadarkan diri hingga tiba-tiba terbangun karena papa mendadak menginjak rem. Rupanya mobil sudah ada di garasi. Ada rasa lega, saya belum mati. Jika suatu hari saya harus mati di Sukabumi, semoga saat itu sedang musim diskon.

Posted by Lia @ 7:33 PM :: (6) comments

8.8.06

Sakit

Semua tampak lebih sepi dari kotaku. Tanpa mesin asap. Tanpa mikrolet. Tanpa kopaja. Melihatnya tanpa teman membuat kota ini tiba-tiba asing bagiku. Semua melamban macam slow motion. Tidak satu katapun aku sumbangkan, bungkam rasanya lebih pas, lebih matching.

Syaraf-syaraf otakku mulai menegang. Bingkai demi bingkai potret kian blur menjauh.

[Apa sih yang kau cari??]
[Katakan padaku, apa arti masa depan bagimu??]

Suara-suara bernada teramat tinggi menamparku dari kesunyian.

[Gila, kau mulai gila! BANGUN LIA! ]

Hah! buktinya percakapan panjang terus menerus mencengkeramku dua jam kemudian!
Setransparan apapun, masih juga kuhiasi tirai.

[Kampungan!]

ya, kampungan! kau kira aku tak dengar?
KAMPUNGAN! MEMALUKAN!
Semoga aku setuju.

Hey angel, i will contact my doctor, you know? watch out.

Ngurah Rai Airport, August 8, 2006.19.40pm

Posted by Lia @ 11:42 PM :: (3) comments

5.8.06

Mula dari Akhir

Udara malam segar menimang benak gusar
Dua-tiga shots espresso melebur menjadi dua-tiga gudang cerita
Mengumbar tawa penghangat tiap letupan

Angin berkata: Tut tut tut… siapa hendak turut?

Menjelma menjadi perempuan diapit langkah-langkah
Terbentengi tubuh tinggi yang tak jera menusuk mata
Ranting berderit ditinggalkan daun-daun
Lepas menjejak bumi tanpa berhenti tersenyum

Malam berbisik: Tut tut tut… siapa hendak turut?

Didera deretan buku dalam lemari
Ditempa ribuan MP3 berganti-ganti
Enam-tujuh shots isi otak membuncah pecah
Mengendap di dasar palung kegelapan esok hari

Selasar berteriak: Tut tut tut… siapa hendak turut?

Dedicated to the baby angel that showed up from the middle of nowhere

Posted by Lia @ 2:03 AM :: (2) comments