13.8.06

Jangan Mati di Sukabumi, Mahal!

Begitu papa bersungut pada adik-adiknya. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dia maksud, karena masih sibuk "meladeni" sepupu-sepupu yang saling lempar cerita. Reunian dadakan ini berawal dari meninggalnya nenek saya, ibu dari papa, beberapa hari lalu. Tentang mengapa saya tidak tampak sedih, itu sepertinya harus dibuat cerita terpisah. Nanti saja kalau mood saya bagus.

Di perjalanan kembali menuju Bandung, saya yang setengah mabuk (terima kasih tukang durian), bertanya pada papa, apa yang dia maksud mati mahal. Dengan wajah serius dan urat menegang di dahi, dia bertutur:

Di perkampungan tertentu macam tempat nenek tinggal, di kaki Gunung Gede, ada budaya aneh yang sangat lazim di mata mereka, dan dipelihara dengan sengaja oleh pemuka agama setempat. Jika seseorang meninggal, maka orang-orang yang men-shalat-kan harus diberi amplop, besarnya isi amplop tergantung siapa orang itu, makin tenar ya makin tebal. Lalu mayatpun dikuburkan, tim penggali juga pulang mengantongi amplop. Tidak lama kemudian tenda terpancang di atas kuburan, lengkap dengan tikar plastik untuk tim pengajian. Siap-siap merogoh kocek lebih besar di tahap ini.

Setiap satu kali tamatan al Qur'an yang di bacakan di depan makam, si pengaji dapat imbalan. Untuk selevel nenek saya (level apa ya? tingkat keselebritisan mungkin...), layaknya tiap orang diberi dua puluh lima ribu rupiah pertamatan. Biasanya, dalam dua hari satu orang bisa tamat baca Al Qur'an satu kali. Yang berkekuatan super (tanpa larangan meminum penguat raga atau jamu-jamuan) bisa tamat sehari sekali. Jika kebetulan keluarga duka memang tebal dompetnya, dan ingin menggelar pengajian hingga 40 hari lamanya, sudah pasti buruh ngaji itu tersenyum riang. Sial-sialnya, tujuh hari mah dapat.

Lalu apa yang terjadi jika si mati dan keluarganya miskin? tanyaku makin mabuk mendengar dongeng papa.

Si miskin tetaplah si miskin. Tidak bakal banyak orang datang untuk sembahyang. Jangan berani-berani berharap ada yang mengaji di depan makamnya berhari-hari, mimpi!

Mabuk durian dicampur lelucon tidak lucu memang paten. Saya tambah puyeng. Benak saya melayang kembali ke reunian dadakan tadi. Saya sempat bingung mendengar uwak perempuan mati-matian menentang mama saya yang kebetulan bendahara (dadakan juga). "Ustadz yang tadi memang harus diberi, khusus dia harus diberi! walaupun tidak ikut sembahyang atau ngaji di depan makam, tapi dia shalat di rumah, dan menggelar do'a bersama di pesantrennya." Mama terlihat sedikit gusar, tapi tetap tahu diri bahwa dia hanya outsider. "Berapa sih harus ngasihnya?" mama akhirnya mengalah. "Minimal lima puluh ribu. Dia kan ustadz terkenal, anggota DPR pula. Jika perlu, kita antar ke sana kalau dia sudah pulang," Uwak begitu giat. "Apa nanti dia ngga tersinggung, orang mau beribadah kok....?" mama kembali berjuang. Setengah melotot Uwak kembali memberondongkan pelurunya. Mama saya melempar pandangan sejenak ke arah saya yang saat itu clueless, lalu mengangguk perlahan.

Saya mulai mual dan berkunang-kunang. Saya yakin sebelumnya durian tidak pernah sejago ini, sebanyak apapun saya makan. Ingatan saya kembali ke tanah kotak dengan rumah di tengahnya itu. Gerbang yang diapit pohon pala meniupkan angin sejuk ke dalam sela-sela jendela tempat saya sedang bengong beberapa tahun lalu. Rumah nenek kadang enak untuk melepas penat, asalkan tidak banyak famili datang saja. Tiba-tiba sepupu saya, anak dari uwak paling besar, yang sejak dulu entah kenapa tidak pernah berani membalas tatapan mata saya, melintas diantara pohon pala. Rumah mungil ibunya yang sebagian berlantai tanah terletak di sudut kebun belakang. "Wah jam segini gaya bener, mau kemana?" tanya saya iseng. Dia menjawab sambil tertunduk, "Kuli ngaji." Baru malam ini saya sadar apa yang dia maksud.

Saya benar-benar tidak sadarkan diri hingga tiba-tiba terbangun karena papa mendadak menginjak rem. Rupanya mobil sudah ada di garasi. Ada rasa lega, saya belum mati. Jika suatu hari saya harus mati di Sukabumi, semoga saat itu sedang musim diskon.

Posted by Lia @ 7:33 PM

Read or Post a Comment

Interesting story,
mungkin ini salah satu jawaban pertanyaan banyak orang.
Penelitian saya, menemukan bahwa suatu daerah hanya memiliki pendapatan perkapita sebesar 300K IDR per TAHUN, bisa hidup. kita tdk bicara BLT yang seringkali menguap dalam perjalanan.
Mungkin memang ada income informal yang berfluktuatif bergantung kepada tingkat kematian.:P

Apakah telah terjadi pergeseran sosiologi dr bangsa yang terkenal dgn sifat gotong royongnya?

Ataukah memang ini sudah menjadi budaya sejak jaman nenek moyang?

Pertanyaan lebih jauh dapat dialamatkan kepada seberapa penting sebuah status sosial dan korelasinya atas pendapatan?
Pada sebuah suku, juragan tanah yang memiliki lahan sangat luas dan dimana mana ketika saya masih bercelana pendek, kini menjadi "gembel" bersorban dan tinggal di mushola karena semua tanahnya dijual untuk menunaikan ibadah haji berKALI KALI!!.
Padahal satu kali saja cukup.

Hhmm..mungkinkan ia melakukan berkali kali agar mendapat predikat Haji Summa Cum Laude?

Posted by Blogger AIRFOIL @ 8:10 AM #
 

turut berduka cita.. ...

hmm.. menarik baru tau ada kuli ngaji.. cuman sayang yah jadinya ibadahnya ke Atas ga nyampe ke yang meninggalnya juga ga nyampe yg ditinggal apalagi..

Posted by Blogger rymnz @ 9:08 AM #
 

Airfoil: Interesting analysis... Tapi bagi yang pinter 'bisnis', Haji summa cum laude bisa mengeruk kekayaan lebih besar lagi loh...

Posted by Blogger MilimeterKubik @ 11:54 AM #
 

sukabumi = suka sama bumi = lovely place to die?

Posted by Blogger budibadabadu @ 10:37 PM #
 

aku kaget2 bacanya
apa nyampe ya itu yg di baca ??
kok kasian banget yg meninggal
duh mbak banyak banget pertanyaan di kepala ku

Posted by Blogger mutiara nauli pohan @ 8:01 AM #
 

kasihan ya.. rasanya sudah ada yang nggak beres dengan beberapa cara orang memandang dan melaksanakan hidupnya
atau jangan-jangan kita yang patut dikasihani? :(

Posted by Blogger hengky @ 2:18 AM #
 
<< Home