28.9.06

Petualang Senja

"Selalu ada excuse, kau tidak pernah berubah," katanya.
Benar, dan biar saja.
Coba buka kembali halaman satu, judulnya Kupu-kupu.
Ingat?

Aku ingin hidup, itu saja.
Biarkan aku terbang tinggi,
ke tempat dimana Gumpalan Oksigen memelukku hangat.

*ready to take off*

Posted by Lia @ 8:19 PM :: (3) comments

5.9.06

Pagi Kepada Malam

Kereta kuda, menuju Istana Raja, 08.00.

"Sepertinya bulan depan saya harus membawa kereta kuda sendiri," Malam teramat senyap, pedagang makanan dan penjaja diri malam ini tampaknya enggan beraksi. Entah kenapa. "Iya, terpaksa begitu. Kita hanya diberi jatah antar jemput sebulan oleh Raja, setelah ini kan pasti
repot. Masalahnya di sini tidak ada kereta umum, taksi pun jarang lewat, adanya cuma di keramaian." Laki-laki bertubuh gempal berkata sambil membetulkan kacamatanya. "Sedangkan kita kan butuh taksi untuk menuju keramaian, jadi percuma saja." lanjutnya. "Betul, saya mulai sebal kemarin tuh, waktu Raja memakai kereta ini, terpaksa saya jalan kaki jauh sekali, kira-kira 500 meter." sambut laki-laki bermata sipit yang badannya paling kurus.

"Kereta kudamu merek apa?" timpalku, satu-satunya perempuan, satu-satunya yang tak punya kereta kuda sendiri."Merek Mersus, dibuat di ujung barat dunia. Dengan model lampu terbaru. Sangat nyaman dipakai, walaupun entah kenapa membuat kuda lebih doyan makan." Aku mengangguk-angguk saja. "Sebetulnya di sini lebih enak pakai kereta mini, yang cukup untuk empat orang. Jalanan cenderung sempit. Beli saja disini, kan gampang." Laki-laki yang mukanya selalu berkerut dan berkulit bersih membuka suara. "Betul juga, toh murah, gaji dari Raja bulan ini cukup." Laki-laki gempal tersenyum puas. Kereta memasuki halaman Istana. Minuman dalam cawan yang konon didatangkan dari masa depan bergoyang melawan hentakan rem. Pengendali kuda tak sedikitpun melirik ke arah kami. Mirip android, tanpa ekspresi.


Warung Pojok, makan malam, 23.00.

"Saya ya jalan kaki, Tuan Puteri, dua jam setengah," mataku terbelalak lama sekali. "Kamu jalan kaki setiap subuh dua jam setengah menuju Istana, lalu tengah malam jalan kembali, dua jam setengah, menuju rumahmu??" lelaki kurus, pendek dan hitam itu hanya tersenyum. Matanya tak sekalipun menatapku. "Bukan rumahku, Tuan Puteri, aku numpang. Aku tidak punya uang sepeserpun sejak sebulan lalu." tambahnya lirih. Kali ini aku mehahan napas. "Lalu kamu makan bagaimana?" selidikku.

Rupanya teman yang dia tumpangi berjualan nasi, sebelum berangkat ke Istana dia berhutang makan demi menimbun tenaga, lalu menutup hari dengan pinjam nasi. "Lalu makan siang bagaimana?" belum habis rasa penasaranku. "Ya tidak makan, Tuan Puteri. Kecuali kebetulan ada yang membagi," bisiknya lirih, masih dengan senyum. Jauh di dasar palung matanya, daun-daun mengering menyebarkan kepedihan yang tak pernah ingin dia bagi. Aku menepuk bahunya entah untuk apa. Lelaki itu berdiri lalu berjalan menuju kereta kuda. Aku mengikutinya. Dia membukakan pintu. "Jangan lagi bukakan pintu untukku," ujarku datar, masih tanpa bernapas. Dia masuk dari sisi kanan. Sejenak setelah duduk memegang kemudi, senyumnya tiba-tiba hilang, matanya menatap ke depan, wajahnya kaku, kembali menjadi android. Lelaki pengendali kuda memacu kereta.

Posted by Lia @ 2:59 PM :: (4) comments